Mudik dan Merajut Memori Kolektif

Oleh: Rasid Yunus

KPMLhulondalo.com  Mudik merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Tradisi ini lazim bersamaan dengan perayaan dan momen tertentu. Mudik juga sebagai bagian dari pola kebudayaan masyarakat Indonesia.

Tujuan mudik biasanya bersilaturahmi melepas rindu bertemu orang tua atau sanak keluarga serta menikmati kembali suasana kampung yang ditinggalkan karena pekerjaan. Tak heran, berbagai moda transportasi hingga kendaraan pribadi digunakan masyarakat saat mudik.

Mudik berasal dari kata atau istilah udik yakni sebutan bagi urban di Jakarta saat itu.  Istilah ini dahulu digunakan untuk kaum urban yang tak sanggup tinggal di Kota Jakarta, dan memilih balik ke kampung masing-masing.

Mudik adalah kegiatan perantau untuk pulang ke kampung halaman. Mudik di Indonesia identik dengan perjalanan seminggu sebelum dan seminggu setelah perayaan tahunan seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru, serta Hari besar Nasional.  

Peminat mudik semakin bertambah setiap tahunnya, misalnya di tahun 2014 dan 2015. Pada lebaran 2015, masyarakat melakukan tradisi tahunan ini  sejumlah 23.400.000 orang (Kemenhub RI).

Di tahun 2016, peminat mudik sempat mengalami penurunan yakni 18.600.000 orang. Di tahun ini menjadi catatan buruk tradisi mudik di Indonesia, karena terjadi kemacetan tol Brebes Exit selama 20 jam. Akibatnya, 12 orang pemudik meninggal dunia.

Setelah insiden itu, penurunan angka pemudik terjadi di tahun 2019. Total pemudik selama masa lebaran 2019 sebanyak 18.343.021 orang. Angka tersebut tercatat menurun 2,42 persen dibandingkan pada 2018, yakni sebesar 18.798.315 orang pemudik.

Kemudian, di tahun 2020  Covid-19 resmi melanda Indonesia. Kasus penularan Covid-19 harian di RI bertambah buruk, sehingga pemerintah memutuskan untuk meniadakan mudik lebaran. Akibatnya, pemudik di tahun 2020 turun menjadi 5,8 juta pemudik saja.

Tahun 2021, pelarangan mudik masih diterapkan, tetapi masyarakat di Indonesia yang melakukan tradisi ini bertambah sedikit, yakni menjadi 9.841.488 pemudik. Tahun 2022 Kementerian Perhubungan RI memperkirakan jumlah pemudik ± 85 juta orang.

Tahun 2023 jumlah pemudik meningkat signifikan menjadi 123,8 juta orang pemudik (Kemhub RI). Hal ini wajar karena tidak ada lagi larangan dari pemerintah tentang mudik.

Tahun 2024 jumlah pemudik berjumlah 190 juta orang yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia dengan menggunakan moda transportasi yang tersedia sesuai medan tempuh (Kemhub RI).

Tahun ini (tahun 2025) diperkirakan jumlah pemudik di Indonesia tersebar di seluruh pulau sebanyak 146,48 juta  orang dengan menggunakan moda tranportasi yang tersedia seperti transportasi darat, laut, dan udara (Kemenhub RI).

(Ilustrasi Mudik: Sumber Canva)

Ternyata, tradisi mudik bukan hanya berlaku di Indonesia. Negera-negara lain juga melaksankan kegiatan mudik. Negara-negara tersebut seperti India, Malaysia, Arab Saudi, Turki, dan Tiongkok.

India memiliki perayaan lebaran yang meriah, meskipun jumlah muslimnya minoritas. Salah satu kemeriahan lebaran di India terasa saat mudik. Tetapi, arus mudik lebaran lebih kecil dibandingkan pada bulan Oktober hingga November tiap tahunnya.

Saat itu, sebagian besar warga India merayakan "Festival of Lights alias Dilwali". Perayaan ini meriahnya sama dengan perayaan Idul Fitri di negara-negara Islam. Warga India akan berbondong-bondong pulang ke kampung halaman.

Malaysia memiliki tradisi mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sama seperti Indonesia, penduduk Malaysia mayoritas muslim. Sehingga, kemeriahaannya saat mudik lebaran sangat terasa.

Mereka yang mudik adalah warga yang merantau ke kota untuk bekerja. Bedanya Malaysia tidak mengenal istilah mudik atau pulang kampung, melainkan Balik Kampung sesuai dengan terminologi bahasa mereka.

Tradisi mudik juga dilakukan warga muslim di Arab Saudi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Apalagi, Arab Saudi memiliki Ka’bah sebagai tempat ibadah paling suci umat Islam. Tak heran tiap lebaran, perayaannya selalu meriah sekali.

Masing-masing daerah menggelar festival, pagelaran teater, pertunjukan musik, dan kesenian lainnya. Keluarga perantau akan pulang, sedangkan keluarga yang tinggal di rumah akan mendekorasi rumahnya dan menyiapkan aneka masakan khas lebaran.

Di Turki Idul Fitri dikenal dengan istilah “Bayram”. Saat berjumpa dengan sesama muslim, mereka saling mengucapkan salam “Bayraminiz Kutlu Olsun”, “Mutlu Bayramlar”, atau “Bayraminiz Mubarek Olsun”. Ketiganya berarti selamat merayakan Hari Raya Bayram.

Selanjutnya di Tiongkok. Penduduk Tiongkok saat ini  mencapai lebih dari satu miliar jiwa. Dari jumlah itu, ±18 juta penduduk-Nya memeluk agama Islam dan kebanyakan tinggal di Xinjiang dan Yunnan. Kedua kota itu selalu merayakan lebaran secara meriah.

Tradisi mudik di Tiongkok tidak hanya berlangsung saat lebaran. Pulang kampung dengan arus yang paling padat terjadi pada saat perayaan tahun baru Tiongkok yaitu Imlek. Perayaan Imlek di Tiongkok jauh lebih meriah dibanding Hari Raya Idul Fitri.

Mudik bukan hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi, politik, serta mobilitas penduduk. Melainkan berkaitan pula dengan psikologi pemudik untuk mengobati kerinduan terhadap orang tua, keluarga serta melakukan ziarah kubur handai taulan yang telah mendahului.

Bagi pemudik, ada yang kurang selama mereka berada di perantauan. Meskipun di tempat tersebut secara ekonomi menjanjikan, namun suasana kekerabatan nampaknya kurang terasa, olehnya mereka rajut kembali ketika mudik ke kampung halaman.

Meskipun waktunya singkat, sudah cukup bagi pemudik bersua bersama kondisi sosio-kultural kampung halaman dan memulihkan kembali memori kolektif yang mungkin terlupakan di daerah perantauan.  

Intinya, daerah tumpah darah merupakan basis karakter sebelum membangun relasi dan berinteraksi di tempat lain. Jika ingin sukses di tempat lain, maka resapilah pesan kebaikan hidup dari kampung asal.

Selamat mudik dan selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah Tahun 2025 Masehi. Semoga momentum ini memberi andil spritual dan sosial sebagai warga bangsa. Bagi yang belum sempat tahun ini, semoga di tahun berikutnya bisa mudik.

 

Penulis: Rasid Yunus
Editor: Pebriyanto A. Hulinggi

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama