Krisis Ekonomi dan Perubahan Sosial: Tantangan yang Dihadapi Pasar Tradisonal (Senggol) Kota Gorontalo Dalam Era Digital

Oleh: Indriani Iskandar Hiola
(Kader Mahasiswa Lemito)

KPMLhulondalo.com Pasar Senggol merupakan salah satu jenis pasar tradisional yang dibuka pada pertengahan bulan suci Ramadhan di berbagai daerah, termasuk Provinsi Gorontalo. Bagi masyarakat Gorontalo, pasar ini, yang sering disebut sebagai pasar rakyat, telah menjadi bagian dari tradisi tahunan yang sangat dinanti-nantikan oleh pedagang maupun masyarakat.

Di Gorontalo, pasar ini dibuka mulai dari hari keenam Ramadhan dengan harapan akan ramai dan penuh aktivitas, sesuai dengan namanya. Tradisi ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kota Gorontalo dari tahun ke tahun. Banyak orang yang datang ke pasar Senggol untuk berbelanja kebutuhan lebaran, seperti baju, sandal, sepatu, dan barang-barang lainnya.

Pada tahun 2021, saat pandemi COVID-19 melanda, pasar Senggol di Kota Gorontalo terpaksa ditiadakan untuk kedua kalinya guna menekan angka penyebaran virus. Pemerintah juga menerapkan kebijakan sosial distancing, yang membatasi aktivitas masyarakat dalam keramaian. 

Akibatnya, banyak pedagang dan masyarakat mengalami krisis ekonomi, dengan perputaran ekonomi yang menurun sementara kebutuhan sehari-hari semakin meningkat, membuat kehidupan masyarakat menjadi sulit.

Kini, di bulan Ramadhan tahun ini, pasar Senggol Kota Gorontalo kembali dibuka di enam lokasi, yaitu: Jalan MT Haryono, Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur; Jalan S Parman, Kelurahan Biawao, Kecamatan Kota Selatan; Jalan Suprapto, Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan; Jalan Raja Eyato, Kelurahan Molosipat, Kecamatan Kota Barat; Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Limba B, Kota Selatan; dan Jalan Sutoyo, Kelurahan Biawao, Kecamatan Kota Selatan.

Namun, sayangnya, pasar Senggol Kota Gorontalo menghadapi tantangan serius, di mana para pedagang mengeluh dan merasa resah karena sepinya pengunjung. Banyak masyarakat yang hanya lalu lalang dan keluar masuk tanpa membeli barang. Salah satu pedagang mengungkapkan bahwa pasar Senggol tahun ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Hal ini terlihat dari penurunan pendapatan, di mana biasanya setelah sholat taraweh pasar ini cukup ramai, tetapi saat ini sangat sepi. Bahkan, menjelang H-10 lebaran, yang seharusnya ramai, para pedagang harus menerima kenyataan pahit bahwa produk mereka hanya sedikit yang terjual.

Fenomena ini disebabkan oleh meningkatnya tren belanja online yang menawarkan kemudahan dan variasi produk yang dapat diantar langsung ke rumah, sehingga banyak masyarakat memilih cara yang lebih praktis. Selain itu, faktor cuaca yang sering hujan juga berkontribusi pada sepinya pengunjung, sebagaimana diungkapkan salah satu pedagang pasar.

Kondisi ini menjadi keresahan bagi para pedagang, mengingat seharusnya Ramadhan tahun ini menjadi momen yang ramai. Namun, situasi di atas membuat pasar sepi pengunjung, yang berdampak pada penurunan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi.

 Semoga dengan adanya keresahan dari para pedagang dan masyarakat terkait sepinya pengunjung pasar Senggol, pemerintah dapat memberikan solusi atau kebijakan yang mendukung para pedagang yang terdampak. 

Penulis: Indriani Iskandar Hiola
Editor: Pebriyanto A. Hulinggi

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama